Opera Van Java (OVJ) 2016 VS OVJ Lawas

Hampir dua mingguan ini twitter saya diwarnai dengan komentar kurang memuaskan tentang kehadiran Opera Van Java Baru 2016 versi Sahur Lagi, yang saat ini ditayangkan kembali di salah satu televisi yang sama, tepat di jam sahur. Mungkin penayangan ini sakadar untuk uji coba, jika memanag ratingnya bagus maka akan dilanjutkan di jam prime time.

Sayangnya, dari sekian banyak twitter yang saya baca, nyaris semuanya mengaku tidak puas dengan kehadiran opera van java yang baru ini. Jika boleh disimpulkan, ketidakpuasan mereka lebih dikarenakan ketiadaan sosok Andre, Sule dan Nunung yang notabenenya adalah pemain-pemain lama Opera Van Java. Sontak saja saya memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mengetahui, apa saja sih yang menjadi pembeda. Dan, karena ini adalah blog baru tentang versusversusan, maka topik ini akan saya angkat pertama kali.

OVJ Baru 2016 VS OVJ Lama

Mengapa topik ini menarik diangkat, pasalnya, saya menganggap OVJ adalah tayangan komedi yang sangat fenomenal. Satu-satunya tayangan komedi yang berhasil mengadakan roadshow di sejumlah kota besar di Indonesia, dan selalu ramai dikunjungi, seperti halnya konser musik besar.

Menurut saya, Opera Van Java yang baru ini, pemainnya cukup punya nama di bidang komedi. Parto dan Aziz sudah kaya pengalaman di Opera Van Java, Deny dan Wendi pun telah lama malang melintang di dunia komedi, beberapa pemain baru lainyya juga punya latar belakang tak jauh dari komedi, seperti Uus dan ipul yang besar karena Stand Up Comedy, ada Aya yang sempat menghebohkan panggung Indonesia Idol karena kelucuannya, atau Gilang Dirga yang kehadirannya sempat memberikan warna baru di dunia entertainment.

Harusnya tidak ada masalah, bukan begitu? Apalagi OVJ ini merupakan lawakan dengan konsep naskah sederhana, yang kemudian bebas dikembangkan sendiri oleh pemainnya asal masih dalam benang merah. Asalkan konsep sudah dipegang, pemain boleh bereksplorasi sesuai karakter masing-masing. Tidak sulit untuk wayang sekelas Deny dan Wendi untuk menghidupkan OVJ kembali. Tapi mengapa masih banyak yang mengeluh?

Beberapa hari saya coba luangkan waktu untuk menonton OVJ sahur lagi untuk melihat bagaimana wayang-wayang baru berperan. Karena ini merupakan lawakan warna lama rasa baru, maka secara konsep tak akan jauh berubah.

Sejauh yang saya tonton sejak dulu, seingat saya OVJ ini adalah lawakan yang dikemas dengan konsep komedi wayang orang. Pembeda OVJ dengan wayang orang yang ada sebelum-sebelumnya adalah, karena banyaknya gimik yang diberikan oleh para wayang, seperti komedi musikal, gombalan-gombalan, peniruan pada seorang tokoh, dan yang teranyar adalah permainan steroform. Nah, untuk pembahasan kali ini, saya mencoba mengamati apa yang menjadi fator ketidak puasan penikmat OVJ pada OVJ terbaru, tentu ini hanya berdasarkan cara pandang saya sebegai penikmat OVJ.

Mari kita kenalan dulu dengan para wayang!

Wayang-wayangnya

Wayang OVJ Lama

OVJ pertama kali dikenal dengan lima tokoh utama, Sule, Andre, Nunung, Parto dan Aziz. Rasanya penikmat OVJ sulit sekali menerima jika satu saja di antara mereka hilang. Lihat saja bagaimana upaya Net TV mengumpulkan 4 wayang dalam satu acara sekaligus, penonton tetap belum terpuaskan dengan sempurna jika Net TV tidak memasukan satu wayang lagi yaitu Aziz. Sekalipun kita tau peran aziz di OVJ tidak sebanyak peran wayang lainnya. Namun itulah kelengkapan dan keutuhan.

Parto adalah dalang yang mengawal perjalanan wayang sampai ke akhir cerita, mengembalikan benang merah dan memarahi para wayang jika kerap melakukan kesalahan. Sule dan Andre memegang peran yang cukup sentral dalam setiap episode di OVJ. Dua tokoh ini kerap dimunculkan bersama, baik sebagai teman, saudara atau pun musuh. Dimana ada Sule, maka disana akan ada Andre. Aziz dulu dan sekarang memegang porsi yang sama, yaitu raja gimik, yang kerap masuk ke dalam segmen dalam berbagai balutan busana yang ajaib. Nunung selalu menjadi tokoh utama wanita, yang sekalipun ada bintang tamu wanita lain, namun sosok nunung tetap akan menjadi tokoh wanita sentral. Dan yang terakhir bergabung adalah Desta, yang menjadi objek absurdnya OVJ.

Wayang OVJ baru 2016

Seperti yang saya sebutkan di atas, OVJ tidak benar-benar ditinggalkan pemain lamanya. Pasalnya dari lima orang pemain lama, Parto dan Aziz kembali meramaikan OVJ baru. Pengalaman Parto dan Aziz tentu diharapkan sebagai pembimbing bagaimana membuat OVJ bisa semenarik dahulu, selain juga sebagai salah satu cara menarik minat penonton lama yang menunggu-nunggu kehadiran OVJ kembali. Parto kembali hadir sebagai Dalang yang akan memandu jalannya skenario. Sedang Aziz masih tetap sama, lebih banyak berperan sebagai objek gimik yang memberikan kesegaran di tengah-tengah cerita, walaupun kehadirannya tidak terlalu banyak mempengaruhi isi cerita keseluruhan.

Nama Wendi memang patut diperhitungkan karena ia sudah sering kali menjadi bintang tamu OVJ. Sepertinya, munculnya Wendi di sini diharapkan bisa menggantikan peran sentral Sule di OVJ sebelumnya. Lalu, muncul Deny, yang menurut saya pribadi ditempatkan untuk bisa menggantikan Andre sebagai tandem Sule. Ya, Deni memiliki satu kesamaan dengan Andre, jago menggombal. Kehadiran Aya, seorang wanita asal jawa sudah pasti diposisikan untuk bisa menggantikan sosok Nunung yang juga asli Solo.

Tiga nama baru di bidang komedi muncul bersamaan, yaitu Uus dan Ipul (lulusan Stand Up Comedy) dan Gilang Dirga. Terus terang saya belum bisa memastikan kemana Uus dan Ipul akan dibawa dalam setiap peran di OVJ. Apa hal yang ingin ditonjolkan. Tapi mungkin juga, sosok ini dimunculkan sebagai perwakilan karakter Desta yang sebelumnya sempat menjadi pemain tetap setelah menjalani masa training yang panjang. Ya, Desta yang absurd dan Uus yang Absurd.

Lalu Gilang Dirga? Ah, mengapa banyak sekali peran disini. Satu-satunya yang bisa saya simpulkan dari kehadiran Gilang Dirga adalah, karena dalam OVJ sangat dibutuhkan seseorang yang mempunyai jiwa musik, yang bisa menyanyi dan bermain musik, untuk melengkapai peran Andre dan Sule yang selalu hadir dengan lagu-lagunya.

Apa yang menjadi perbandingan?

Chemistry Pemain

Memang ada sesuatu yang kurang memuaskan pada chemistry OVJ baru, seperti yang banyak diungkapkan di twitter. Menurut saya, hal ini bisa terjadi karena antar pemain OVJ baru yang belum terjalin dengan baik, mungkin dikarenakan masih baru bersama sama.

Tetapi, Saya coba amati episode episode awal OVJ dulu mengudara di tahun 2009, waktu jam tayangnya belum setiap hari, tidaklah sulit membangun chemistry antar pemain saat itu. Waktu itu nama Aziz terbilang baru sekali di pertelevisian, namun dia dapat langsung berbaur dengan Sule. Sedang Andre, yang notabenenya musisi tidak terlalu kesulitan mengambil porsi di tengah-tengah senior-seniornya saat itu, mengingat ada pengalaman sebelumnya di ngelenong nyok. Tidak butuh waktu sampai beberapa episode sampai akhirnya OVJ bisa membuat kita tertawa.

ovj

Ini yang belum nampak di OVJ baru. Padahal Wendi dan Deny terbilang kawan lama dan banyak terlibat dalam program sejenis yang sama, namun sangat tampak masih ada kekakuan saat akan melemparkan candaan. Tek-tokan antara Deny dan Wendi terbilang masih sering kosong. Entah mengapa, padahal Deny termasuk salah satu pelawak yang cerewet kalau menjadi host. Apa mungkin karena terlalu fokus menjadi host musik bersama teman-temannya disana, Deny lupa caranya melawak yang benar-benar mengandalkan kelucuan kata-kata, gerakan dan mimik. Wendi sendiri ekspresinya sangat bagus, walau ada beberapa part yang terlihat berlebihan. Tapi, tidak apa-apa, bukankah Sule pun kadang berlebihan.

Sosok Wendi dan Deny yang diharapkan bisa menggantikan Andre dan Sulepun menjadi Sirna ditelan imsak subuh. Sampai menjelang azan subuh berkumandang, penonton tidak benar-benar tertawa lepas. Padahal kalau diamati seksama dari sekian banyak video OVJ di Youtube, Andre dan Sule melawak hanya dengan cara sederhana, yaitu seperti mereka berbicara sehari-hari, tanpa terkekang oleh skrip dan dialog yang sudah dibuat sebelumnya.

Aya versus Nunung, waw, kalau yang ini gak usah dibandingkan, ya! Sebagaimanapun Nunung terkadang dikomentari garing di beberapa video youtube OVJ, namun hanya Nunung yang bisa berada dan mengimbangi lawakan konyol pemain-pemain sekelas OVJ saat ini. Kelucuan Nunung belum dimiliki oleh pelawak wanita lainnya, ataupun wanita seleb lainnya yang menobatkan diri sebagai orang lucu di TV. Aya dibentuk untuk memiliki chemistry dengan Wendy ataupun dengan Uus, mungkin mengingat dulu Nunung dan Aziz berhasil membangun chemistry. Mungkin masih perlu jam terbang dan usaha, agar chemistry aya dan pasangan mainnya tersebut terlihat alami.

Kreativitas bermusik para wayang?

Ya, OVJ identik sekali dengan lagu-lagu anyar yang dimainkan oleh wayangnya. Simak saja berapa banyak lagu anyar yang dibangkitkan kembali kehadirannya melalui lantunan suara wayang wayang OVJ, seperti Mungkinkah, Merpati Putih, Andeca-Andeci, Lagu Kode, Isabela, Suci dalam Debu, fantasia bulan madu, gerimis mengundang dll, atau lagu baru yang kehadirannya di OVJ sangat dinantikan untuk dibuat medley, seperti Separuh Aku, Susis, Mama Papa Larang, Kehilangan, dll. Belum lagi lagu yang diciptakan sendiri oleh wayang OVJ seperti Follow Me, Smile You Don’t Cry, Lakote, lagu karangan, Mimin dll. Untuk membuat lagu ini akrab kembali di tengah masyarakat memang butuh waktu. Tapi yang jauh lebih penting dari waktu adalah butuh kreativitas seni musik yang baik dari para pemainnya.

Para pemain OVJ lama memang tidak hanya dibekali dengan jiwa melawak, tapi unsur seni bermusik mereka sangat mumpuni, hampir semuanya pandai memainkan alat musik. Parto dengan gitar melodinya, Aziz yang berangkat dari pemain gamelan, Sule yang seniman karawitan, Nunung yang pesinden juga Andre dan Desta yang memang berangkat sebagai musisi modern. Dan, semuanya mampu memainkan alat musik modern. Sehingga tak salah jika mereka sendiri sebenarnya sudah bisa membentuk group band komedi dengan pasar yang sangat besar. Sule dan Andre sangat vocal di bidang ini. Keahlian mereka mengaduk-aduk lagu membuat OVJ tak pernah sepi dari musik. Dan OVJ versi lama inilah yang menurut saya akhirnya akan menjadi regenerasi Warkop, komedian mutitalenta.

Bagaimana dengan OVJ baru. Lagi-lagi mereka harus bekerja keras untuk bisa ada di titik ini. Karena, ini bukan cuma butuh celotehan, mengandalkan gombalan, mengedepankan plesetan, melakukan bullian dan sebagainya, ini membutuhkan insting bermusik yang baik. Sebagai salah satu penggemar berat Komeng, bahkan saya meyakini Komeng pun belum pernah menampakan kreativitas ini, bermusik dan berkomedi dalam satu frame. Dan, mungkin ini yang akhirnya membuat saya akhirnya membedakan mana pelawak, seniman, entertainer sejati atau sekadar entertainer.

Kalau saya amati, OVJ baru mengandalkan Gilang Dirga untuk mengisi kekosongan musik di OVJ baru, sesekali Deny yang berupaya meramaikan dengan lagu andalannya Bang Jali. Mungkin sebenarnya di antara mereka pandai bermain alat musik, hanya belum ditonjolkan. Jam terbang yang setiap hari selama sahur ini semoga bisa menambah kreativitas mereka di bidang ini.

Tantangan Besar untuk OVJ Baru 2016

OVJ Roadshow

Ya. Bagaimanapun ini adalah percobaan yang cukup berat untuk kru OVJ baru, karena mereka akan terus dibayang-bayangi kesuksesan OVJ lama. Dan, yang lebih menyakitkan adalah dibanding-bandingkan. Manja penonton pada lawakan ala duo solpet adalah salah satu tantangan yang besar. Seperti halnya OVJ bisa menempatkan dirinya berbeda dengan trio Olga- Komeng- Adul yang muncul duluan, seharusnya OVJ baru bisa belajar banyak dari hal ini. Sebenarnya tidak sulit karena OVJ baru memiliki Deny dan Wendi. Toh, buktinya Sule yang berangkat dari seorang pelawak dan Andre yang berangkat dari seorang musisi bisa menjadi satu dalam balutan komedi, apalagi Deny dan Wendi yang sebelumnya sudah berada dalam satu group.

Tantangan lainnya dari para kru adalah, bagaimana tetap menjaga kemurnian OVJ, yaitu sebagai lawakan tanpa gibah atau gosip gak penting, seperti yang biasa dihadirkan pada tayangan berunsur komedi lain di TV yang sama atau di televisi tetangga. Masyarakat muak dan jenuh dengan hal-hal tersebut. Jika unsur Gibah menjadi penting untuk meningkatkan rating, percayalah acara tersebut tidak akan bertahan lama apalagi dikenang sepanjang masa.

Perbandingan ini sekadar masukan bukan untuk menjatuhkan. Butuh kerja keras mengembalikan keunikan OVJ dengan tim yang baru, tapi bukan sesuatu yang tidak mungkin. Sukses terus OVJ!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s