Vaksin Asli VS Vaksin Palsu

Telaaaattt deh!

Yup, berita beginian mah udah lama banget trending topiknya, ngapain baru dibahas. Mungkin kurang lebih 2 sampai 1 bulan ini kita dihebohkan kabar tentang vaksin palsu yang beredar di Indonesia, terutama di wilayah jabodetabek. Mungkin sebagaian dari kita adalah korban. Mungkin sebagian dari kita adalah penonton saja. Mungkin sebagian dari kita merasa prihatin, atau mungkin sebagaian lainnya tidak terlalu peduli. Apapun perasaan kita saat itu, saya gak akan membanding-bandingkannya secara detail.

Yang saya akan bahas di sini adalah, apa sih perbandingan antara vaksin palsu dan vaksin asli, dari kacamata saya seorang Apoteker. Oh, iya, sedikit pengenalan, saya adalah Apoteker. Walaupun pekerjaan saya lebih banyak berkecimpung di dunia tulis menulis, tapi sejatinya saya tak pernah melupakan siapa profesi saya sebenarnya. Bicara vaksin di sini, tentu bukan saja melibatkan daya analisa saya sebagai Apoteker, tetapi juga analisa saya sebagai seorang ibu yang memiliki putra. So’ saya akan kombinasikan semua.

vaksin asli atau palsu- versus

Baiklah, kali ini saya akan menjadi orang yang terlihat cerdas, berhubung yang akan kita bicarakan adalah hal-hal yang berbau ilmiah. Kita mulai dari hal mendasar, yaitu pengertian vaksin.

Vaksin merupakan sistem kekebalan tubuh yang dirancang sedemikian rupa, untuk membantu melindungi seseorang dari virus dan bakteri, yang mungkin masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit. Pada dasarnya, ketika virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh, tubuh sendiri akan membentuk kekebalan tubuh, yang kemudian dikenal dengan istilah antibodi.

Antibodi yang didapatkan tubuh secara alami, artinya individu tersebut pernah mengalami sakit akibat paparan virus atau bakteri sehingga tubuh membentuk antibodi, disebut sebagai antibodi alami. Sedangkan antibodi yang didapatkan bukan karena paparan langsung bakteri atau virus aktif ke tubuh, disebut antibodi buatan. Nah, pemberian vaksin ini dilakukan untuk membentuk antibodi buatan dalam tubuh manusia. Virus atau pun bakteri yang dipaparkan ke tubuh seseorang saat pemberian vaksin adalah virus atau bakteri yang telah dilemahkan, sehingga tidak berdampak serius bagi kesehatan seseorang, namun tetap bisa membantu tubuh dalam membentuk antibodi. Baik antibodi alami atau pun antibodi buatan, berguna untuk menghancurkan virus dan bakteri berbahaya yang masuk ke dalam tubuh, yang berpotensi menyebabkan penyakit.

Sampai disini semua setuju oke!

Nah, lalu balik lagi ke soal vaksin asli dan palsu, apakah ada hubungannya dengan pembentukan antibodi tadi? Tentu saja!

Jika teman-teman menyimak pembahasan pada Indonesia Lawyer Club beberapa minggu yang lalu tentang masalah vaksin palsu, mungkin teman-teman tidak bisa menarik gambaran yang jelas sekali tentang apa bahaya dari vaksin palsu ini. Karena, saat itu perwakilan BPOM sendiri tidak menjelaskan dengan detail apa efeknya, dan menyerahkan pada dokter anak untuk menjawabnya. Sedangkan dari pihak dokter anak menjawab bahwa vaksin palsu tidaklah seberbahaya yang dibayangkan, kecuali hanya masalah sterilitas.

Vaksin Asli

Saya rasa tidak perlu banyak dijelaskan. Vaksin asli ditujukan agar tubuh bisa membentuk antibodi guna melawan penyakit tertentu. Vaksin ini berisi virus atau bakteri yang telah dilemahkan. Di Indonesia sendiri, pemerintah telah mewajibkan pemberian 5 jenis vaksin, yaitu BCG, polio, DPT, hepatitis B dan campak. Masing-masing vaksin telah ditetapkan waktu-waktu pemberiannya. Penetapan waktu sesuai dengan usia kemungkinan anak rentan terpapar virus atau bakteri paling dini, sehingga dapat dicegah sejak awal. Vaksin lainnya diluar non wajib adalah vaksin yang dianjurkan oleh IDAI, misalnya MMR, IPD, HIB, Influenza, dll.

Efek vaksinasi pada tubuh anak beraneka ragam. Vaksin polio dan hepatitis B umumnya tidak terlalu memiliki efek signifikan berupa demam, namun mungkin pernah dijumpai kasus tertentu dimana anak menjadi demam setelahnya walaupun jarang. Vaksin DPT berisiko menyebabkan anak demam. Pada anak yang memiliki riwayat kejang demam, perlu diwaspadai, namun buka dihindari pemberian vaksinnya. Vaksin BCG akan meninggalkan bekas yang cukup nyata pada kulit, karena memang disuntikan tepat di bawah jaringan kulit, dan ini dianggap satu pertanda kalau aktibodi terbentuk. Beberapa anak yang diberikan vaksin campak juga mengalami demam ringan – sedang, dan bahkan sampai keluar bintik merah atau keluar campaknya.

Efek samping vaksin tersebut terbilang tak berbahaya, demam yang biasa terjadi juga bisa diatasi dengan pemberian obat penurun panas. Biasanya demam berlangsung hanya dalam hitungan 24 jam – 48 jam. Pada anak yang memiliki riwayat kejang, perlu dikomunikasikan dengan dokter sebelum pemberian vaksin. Beberapa orang tua mengakali dengan memberikan paracetamol terlebih dahulu sebelum anak mendapatkan vaksinasi, dan disebut cukup efektif. Namun, akan lebih baik jika hal ini dikomunikasikan dengan tenaga medis untuk mendapatkan solusi terbaik.

Vaksin Palsu

Vaksin palsu yang beredar di Indonesia berada dalam beberapa definisi. Palsu di sini maksudnya adalah, vaksin tetap berisi kuman yang dilumpuhkan namun tidak sesuai dengan label yang tertera pada botol vaksin. Misalnya vaksin yang semestinya berisi kuman difteri, pertusis dan tetanus, ternyata berisi kuman hepatitis, dan sebagainya.

Selain itu, nomor batch pada kemasan vaksin pun telah dipalsukan, termasuk keterangan info BPOM dan expired date yang kurang jelas. Pada penampakan luar, seperti dijelaskan oleh beberapa pakar, terlihat beberapa perbedaan yang nyata, misalnya botol yang tampak tidak terlalu bening, tutup vial yang warnanya berbeda dengan aslinya, segel yang rusak, keterangan kemasan yang kadang tidak terbaca. Baik dokter, perawat, bidan atau apoteker yang berkecimpung di dunia kesehatan klinik mestinya menyadari tentang perbedaan secara fisik ini.

Efek vaksin palsu pada tubuh anak tentu tidak sama dengan vaksin asli. Yang pertama, tubuh anak sudah pasti tidak membentuk antibodi sesuai yang diharapkan. Pada anak yang memiliki daya tahan tubuh kuat, inshaa Allah mereka bisa membentuk antibodi sendiri secara alami ketika terpapar kuman, di usia dimana seharusnya mereka sudah mendapatkan vaksin. Namun, pada anak yang daya tahan tubuhnya sedang kurang bagus, kemungkinan ia terpapar kuman yang menyebabkan ia menjadi sakit dan berisiko tinggi sebabkan kematian atau kelumpuhan juga mungkin terjadi, khususnya jika di wilayah sekitarnya sedang terjadi wabah penyakit.

Vaksin memang diberikan secara bertingkat, pemberian vaksin secara lengkap sesuai usianya akan membantu anak membentuk kekebalan tubuh lebih baik. Karenanya salah satu solusi pemerintah adalah, tetap memberikan vaksin pada anak yang sebelumnya mendapatkan vaksin palsu, walaupun sudah tidak dalam usia pemberian vaksin yang dianjurkan.
Sekalipun komposisi dalam vaksin palsu disebut tidak membahayakan tubuh anak, namun yang perlu dikhawatirkan adalah apakah pembuatan vaksin palsu tersebut sesuai sengan cara pembuatan vaksin yang baik. Tentu jika vaksin tersebut dibuat oleh ahlinya, maka ia akan dibuat dalam proses yang steril, diletakan dalam kemasan yang baik dan disimpan dalam suhu yang sesuai untuk zat-zat yang terkandung di dalamnya. Vaksin pallsu, apakah ia memenuhi standar tersebut? Mungkin tidak!

Ketidaksterilan zat, kemasan, peralatan dan juga kesalahan pada penyimpanan vaksin tentu dikhawatirkan akan merubah sifat sifat kimia zat yang terkandung dalam vaksin, dan bisa jadi ini yang akan mengkhawatirkan saat masuk ke tubuh sang anak.

Vaksin palsu, salah siapa?

Sebagai apoteker, yang pasti saya harus sebut semua professional kesehatan dan juga pemerintah memiliki peran dalam kasus ini, baik secara langsung atau tidak langsung. Standar operational kerja di rumah sakit yang tidak dipatuhi oleh masing-masing tenaga ahli menjadi hal mendasar, yang menyebabkan mudahnya vaksin palsu masuk ke rumah sakit dan menyebar luas dengan mudahnya. Penyalahgunaan tugas atau wewenang sebagai professional kesehatan membuat beberapa rekan professional kesehatan menjadi terjebak dalam peredaran vaksin palsu tanpa ia sadari.

Kosongnya vaksin asli pemerintah di beberapa rumah sakit dalam waktu tertentu, juga menjadi penyebabkan mudahnya distributor vaksin palsu masuk ke rumah sakit, untuk mengambil kesempatan. Dan tentu saja, miskinnya sosialisasi pemerintah tentang distributor vaksin resmi ke tenaga kesehatan juga dianggap menjadi pemicu.

Selain itu, minimnya pengetahuan masyarakat tentang vaksin, akibat edukasi dari pemerintah tentang vaksin itu sendiri juga sangat kurang, sehingga mereka sangat mudah menjudge bahwa vaksin mahal adalah yang paling baik untuk si kecil dibandingkan vaksin milik pemerintah.

Bagaimana nasip anak saya?

Anak saya mendapatkan vaksin wajib lengkap yang kesemuanya saya dapatkan dari puskesmas dengan harga yang terjangkau. Untuk vaksin tambahan, terus terang saya hanya memberikan vaksin HIB yang saya dapatkan dari rumah sakit, dan Alhamdulillah rumah sakit tersebut tidak masuk dalam daftar rumah sakit yang mengedarkan vaksin palsu.

Tips dari saya, setiap orang tua sebaiknya mengerti bagaimana sebuah vaksin bekerja. Tidak lantas memvaksinkan begitu saja anaknya dengan alasan karena diwajibkan oleh pemerintah. Kenali jenis vaksin anak Anda, perbedaan vaksin panas dan non panas dan apa yang sebaiknya anak Anda dapatkan, tidak lantas begitu saja memutuskan memberikan vaksin non panas karena takut anak demam, padahal bisa jadi vaksin yang panas tersebut lebih baik dalam pembentukan antibodi anak. Pesan saya untuk rekan sejawat apoteker, selamat menjalankan tugas mulia dan jalankanlah tugas sebagai tenaga kesehatan dengan penuh tanggung jawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s