Sinetron Era Tahun 1990 VS Sinetron Era Tahun 2000

Sebagai orang yang pernah mencicipi hidup di era tahun 1990 – 2000 dengan sangat sadar, artinya di tahun tersebut usia saya bukanlah balita lagi. Di usia tersebut saya sudah bersekolah, mengenal berbagai macam musik, sudah bisa jalan ke mall bareng ama teman-teman, tanpa ditemenin nyokap bokap, dan sebagainya. Di era ini ada segudang hal yang bisa diceritakan, termasuk salah satunya soal tayangan televisi.

Tidak bisa lupa dari ingatan, bagaimana televisi di era tahun 1990 adalah televisi yang bersahabat. Televisi yang setiap detailnya sangat mudah dikenang alur ceritanya, atau pun karakter-karakter yang berperan di dalamnya. Ada satu tayangan televisi yang sudah ada sejak tahun 1990 dan masih berlanjut sampai sekarang yaitu drama, atau kita biasanya menyebutnya sebagai sinetron.

Sinetron percintaan memang sudah ada sejak lama. Sinetron ini masih tetap menyampaikan sebuah cerita tentang percintaan, harta, kekuasaan dan sebagainya. Namun, ada beberapa hal yang saya anggap menjadi berbeda antara sinetron tahun 1990 an dan sinetron yang ada di atas tahun 2000, atau kalau mau lebih detail di atas tahun 2010.

Sinetron era 1990 an vs era tahun 2000 an

JUDUL-JUDUL SINETRON 1990 dan 2000

Judul-judul sinetron seperti, Rumah Masa Depan, Jendela Rumah Kita, Cinta, Noktah Merah Perkawinan, Karmila, Tersanjung, Si Doel Anak Sekolahan adalah beberapa judul sinetron dari sekian banyak judul yang sempat merajai pertelevisian, pada tahun 1990 an. Siti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat menjadi Sinetron dengar kualitas video yang sangat standar tapi cerita yang sangat menarik. Sitkom seperti Keluarga Cemara, 1 Kakak 7 Keponakan, Gara-Gara, Lika Liku Laki Laki juga sempat menjadi hits di masanya. Belum lagi sinetron bertema action seperti deru debu, panji manusia millennium atau saras 008 yang banyak digemari beragam usia. Serial ringan seperti jin dan jun, jinni oh jinni, dan tuyul dan mbak yul, juga tidak bisa terlupakan begitu saja, dari benak penonton sampai saat ini.

Sinetron-sinetron di tahun 2000 an pun tidak ingin kalah pamor, bahkan judul mereka semakin bervariasi. Namun, saking bervariasinya, judul tersebut kadang aneh terdengar di telinga, apakah sinetron ini mengadopsi tema percintaan, action, religi, tragedi atau komedi. Cinta Fitri, Putri yang tertukar, Tukang Bubur Naik Haji, Catatan Harian Seorang Istri menjadi beberapa jenis sinetron panjang yang banyak memiliki penggemar. Semakin kesini muncul lagi sinetron dengan konsep baru seperti Ganteng-Ganteng Serigala, 7 Manusia Harimau dan sejenisnya. Justru model tayangan Sitkom semakin sulit ditemui, sebelumnya ada Sitkom Bajaj Bajuri dan OB yang sempat trend. Saat ini, TV terkini NET, adalah TV yang rajin menghadirkan Sitkom seperti Tetangga Masa Gitu, The East, dan Ok Jek!

ALUR CERITA

Ini adalah hal pertama yang akan saya bahas. Alur cerita!

Entah di tahun 1990 televisi sama sekali tidak hanya mengejar rating, sehingga alur cerita sinetron pada saat itu sama sekali tidak dibuat berdasarkan keinginan penonton semata, tetapi juga kebutuhannya. Kecuali sinetron tersanjung, sinetron di era tahun 1990 tidak dibuat panjang sepanjang-panjanganya, sampai kita tak sadar kapan sebenernya sinetron tersebut berakhir.

Alur dan plot cerita pun dibuat memiliki benang merah yang kuat. Pada umumnya sinetron di tahun ini diadaptasi dari novel-novel besar. Siti Nurbaya misalnya diadaptasi dari Novel Marah Rusli, Karmila karangan Marga T, Cinta Karangan Mira W, dan masih banyak lagi sinetron yang diadopsi dari novel ternama. Bahkan karya-karya Mira W sempat merajai dunia persinetronan di masa tahun 1990. Dengan begitu, penulis skenario tidak lantas semena-mena merubah plot, menambah pemain, memanjangkan episode sesuai dengan permintaan rating, karena tentu pembaca novel akan menjadi kecewa.

Bagaimana dengan sinetron tahun 2000 an ke atas. Kebanyakan sinetron di tahun ini diadopsi dari sinetron lain yang ada di luar negeri, misalnya dari drama korea yang kemudian dibuat versi Indonesianya, dengan mengubah beberapa hal kecil saja. Ketika sedang hits filem-filem drakula dan serigala versi Twilight Saga, maka muncul pula versi sinetron sejenis di Indonesia. Munculnya sinetron yang diadopsi dari filem di luar negeri ini terkadang tidak disesuaikan dengan keadaan di Indonesia, sehingga menyebabkan alurnya menjadi sedikit berantakan dan dipaksakan.

Ketika sebuah sinetron seolah menemui jalan buntu maka untuk mengakalinya penulis akan menambah tokoh tokoh baru dan menciptakan cerita baru, yang entah benang merahnya berhubungan atau tidak dengan cerita sebelumnya. Tentu tak semua sinetron. Sinetron Catatan Hati Seorang Istri berusaha untuk menjadi pembeda, dimana ia diangkat dari novel karangan Asma Nadia. Tapi tetap, penonton seakan dibuat jenuh dengan munculnya banyak karakter baru.

Di tahun ini, Deddy Mizwar yang seolah bekerja keras untuk membuat sesuatu yangberbeda dari yang ada. Lahirnya sinetron Kiamat Sudah Dekat, Para Pencari Tuhan menjadi salah satu tolak ukur bahwa masih ada sinetron yang bisa dinikmati dengan hati di tahun 2000 an ke atas.

PENOKOHAN DAN KARAKTER PEMAIN

Tidak terlalu banyaknya artis di era 1990 an membuat sebuah sinetron mudah diingat beserta dengan para pemain di dalamnya. Misalnya Desi Ratnasari dan Primus yang bermain apik dalam sinetron Cinta, atau Ayu Azari dan Cok Simbara yang sangat serasi di sinetron Noktah Merah Perkawinan, Paramitha Rusadi dan Teddy Syah di Sinetron Karmila, Lulu Tobing dan Ari Wibowo di Tersanjung, Anjasmara dan Jihan Fahira yang menguatkan tokoh di sinetron Tersayang atau pun tiga dara Desi Ratmassari, Nia Daniati dan Maudy Wilhemina dalam sinetron Buku Harian dll. Karakter-karakter ini sangat kuat memegang perannya masing-masing.

Kita balik ke sinetron yang lebih lawas lalu simak bagaimana Novia kolopaking, Him Damsyik dan Gusti Randa memerankan tokoh utama di Siti Nurbaya dengan ciamik dan membawa perasaan. Atau Sandy Nayoan dan Desi Ratnasari dalam perjuangan cintanya di Sengsara Membawa Nikmat. Mari balik ke Sitkom, ada nama Sandi Nayoan dan Novia Kolopaking yang sangat prima bermain di Satu Kakak Tujuh Keponakan, tigak gadis cilik Euis, Ragil dan Ara dalam sitkom Keluarga Cemara, atau Lidia Kandau di sitkom Gara-Gara.

Tokoh di sinetron tahun 1990 an hanya itu-itu saja, tapi dengan karakter yang sangat kuat di masing-masing cerita. Akting yang tidak berlebihan, penokohan yang sesuai dengan usia pemain, dan hampir rata-rata jauh dari pemain berwajah blesteran. Namun nyatanya sinetron ini mampu memberikan kenangan dalam ke penontonnya.

Lalu, bagaimana dengan penokohan pada pemain di sinetron tahun 2000 an. Saya tidak meragukan akting dari Nikita Willy, Shiren Sungkar, Dude Herlino, Chelsie Olivia dan sebagainya, hanya kadang kasihan mereka karena terjebak dengan alur cerita yang tidak menentu ujungnya, atau terjebak dengan peran yang tidak sesuai usia mereka pada masanya. Hal ini membuat mereka terlihat lebih tua dibanding usia mereka yang seharusnya.

Wajah sangat berperan pada sinetron tahun 2000 an. Percuma berakting bagus kalau wajah tidak cantik atau tampan, tidak akan terlalu dilihat. Lebih baik berakting biasa asal wajah memadai dan kalau bisa blesteran. Ini yang membuat di era 2000 atau 2010 ke atas wajah blesteran sangat digemari. Sekalipun akting mereka akan terlupakan atau tidak kuat, tak masalah, wajah ini bisa mendongkrak rating sesaat. Sangat sering kita temui beberapa pemeran wanita yang usianya masih belasan, atau masih tercatat sebagai siswa SMP atau SMA tetapi berakting seperti mereka telah kuliah, bekerja bahkan berumah tangga dan memiliki anak.

Oh ya, berakting lebay yang saya maksud di sinetron 2000 an ke atas adalah, dimana pemeran antogonis bisa sangat antogonis sekali tanpa ketahuan oleh orang lain di sekitarnya. Dia bisa melakukan kejahatan di luar pemikiran orang normal, dan seringkali mendapatkan dukungan dari teman-temannya. Kalau tidak lebay apa lagi ini namanya, klise!
Banyaknya pendatang baru membuat tidak mudah mengenal siapa nama tokoh utama di sebuah sinetron, yang menjadikan sinetron itu hanya sesaat diingat, atau hanya pada saat rating sinetron tersebut meningkat saja.

Sebenarnya bukan tidak ada yang bagus. Judul sinetron seperti Para Pencari Tuhan ataupun pendahulunya Kiamat Sudah Dekat yang sempat meledak di antara tahun 2005-2008 sempat melekat dalam di hati penonton. Cerita yang tidak dibuat-buat, penokohan karakter yang tepat dan alur cerita yang jelas menjadikan sinetron ini berhasil menerima banyak sanjungan Satu lagi, Cinta Fitri mungkin menjadi salah satu contoh sinetron panjang dengan tema percintaan yang masih bisa diingat siapa saja karakter yang bermain di dalamnya.

SOUNDTRACT SINETRON

Ini sebenarnya sangat menarik dibahas. Di tahun 1990 an, sebuah soundtract sinetron sangat mendukung sekali kejayaan sebuah sinetron. Tak jarang, seorang musisi memiliki dua video klip sekaligus, video klip pertama untuk lagunya, video klip kedua yang mendukung soundtract sebuah sinetron. Isi dari sebuah soundtract juga sangat mencerminkan isi cerita sebuah sinetron. Misalnya, sinetron janjiku yang diperankan oleh Paramitha Rusadi sebagai gadis buta, didukung oleh soundtract dengan judul Janjiku dan Pengelihatan yang juga dinyanyikan oleh Paramitha Rusadi, Lagu Percayalah Titi DJ sangat mendukung kesuksesan Sinetron Cinta yang dimainkan Desi Ratnasari dan Primus, Lagu sinetron Keluarga Cemara yang dibuat sedemikian rupa, Sinetron Karmila dengan lagu Bias Asa yang dibawakan oleh Paramitha Rusady, Lagu Deru dan Debu dari Niki Astria yang mendukung sinetron Deru dan Debu, lagu jangan Risaukan yang mendukung sinetron satu kakak tujuh keponakan, yang dinyanyikan bersama para pemain di sinetron tersebut. Dari semua judul, semuanya memiliki ketrakaitan dengan isi cerita maupun tokoh yang memerankan cerita.

Ini yang jarang kita jumpai di Sinetron tahun 2000 an ke atas. Musik pendukung sinetron terkadang tidak berhubungan langsung dengan tema sinetron. Hampir jarang sebuah lagu dibuat khusus untuk sebuah sinetron. Mungkin karena di masa ini era perfilemen Indonesia menanjak, sehingga lebih banyak musisi lebih tertarik menciptakan soundtract untuk filem ketimbang sinetron.

NILAI EDUKASI

Mungkin kita pernah bersedih karena kehilangan cerita-cerita menginspirasi di balik Keluarga Cemara, Satu Kakak Tujuh Keponakan, Rumah Masa Depan, Aku Cinta Indonesia yang tayang di tahun 1990an. Dan, mungkin kita mulai bersenang hati lagi untuk menerima muatan positif yang disajikan dalam sinetron Lorong Waktu, Para Pencari Tuhan, Kiamat Sudah Dekat di tahun 2000 an. Di atas tahun 2010, hampir kita tidak temui lagi sinetron dengan muatan edukasi yang kental. Hampir semua bersifat keduniawian.

Tukang bubur naik haji berusaha berada di jalur religi, yang berupaya mengantarkan pesan moral. Sayang, sedikit berlebihan di beberapa sisi, dan jadi menjatuhkan image seorang haji, yang disajikan begitu nyeleneh di dalamnya. Para Pencari Tuhan, amat disayangkan hanya tayang di bulan Ramadhan saja.

Sekarang masyarakat harus berpuas diri melihat sinetron dmana anak SMP dan SMA mulai berpacaran, saling membully dan menjatuhkan satu sama lain, tokoh yang menebar kedengkian, kebodohan, adegan mistik dimana-mana, khayalan yang melampaui batas normal dan menjurus ke kemusyrikan dan sebagainya.

Kembalikan Sinetron kami yang beredukasi, yang bermuatan moral, yang menjadi tontonan dan tuntunan untuk anak-anak kami kelak!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s